Menjadi Bangsa Pembaca Buku

Indonesia sedang dalam kondisi darurat literasi. Negara ini berada dibawah Thailand dan Malaysia serta Singapura sebagai negara dengan peringkat literasi tertinggi di Asia Tenggara.  Bahkan Indonesia hanya satu tingkat  lebih dari Republik Botswana, sebuah negara di Afrika  bagian selatan. Penelitian ini dilakukan oleh Central Connecticut State University. Problema yang terjadi karena di negara ini tidak menjadikan membaca sebagai budaya, mulai cara membaca sampai membiasakan anak untuk membaca hingga menjadi karakter. Harapannya, membaca sebagai kebiasaan dan rutinitas. Jika mau menjadi bangsa yang besar, membaca harus menjadi budaya rakyat Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Venna Melinda, anggota Komisi X DPR RI dalam sambutannya diacara Safari  Gerakan Nasional Gemar Membaca di Pendopo Sasana Adhi Praja. Kamis (1/9).

Anggota Komisi X yang juga mantan artis ini mengungkapkan, dengan membaca buku, mendalaminya, sejuta pengetahuan  akan didapat. Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, tidak mungkin  orang dapat mencintai negeri dan bangsanya kalau tidak mengenal kertas-kertas tentangnya, sejarahnya. Fakta yang terungkap, karena bukulah bangsa ini menyadari akan penjajahan. Kartini adalah salah satunya yang sadar akan penjajahan dan tentang hak wanita. Melalui membaca, Kartini berimajinasi, membangun cita-cita dimasa depan. Juga dengan Bung Karno maupun Bung Hatta. Mereka mau diasingkan dan dipenjara asalkan bersama buku. Dengan membaca buku, mereka mampu mengusir penjajah dari negeri ini.  Dengan buku pula, mendorong dan memunculkan gagasan-gagasan membangun bangsa, melahirkan tokoh-tokoh nasionalisme.

Dihadapan undangan yang hadir, Venna Melinda menegaskan, jumlah pustakawan di Indonesia sekitar 3000 orang. Sekitar 100 orang yang baru terfasilitasi. Untuk anggaran tahun 2016 Rp.701 milyar, padahal idealnya mencapai Rp.5 trilyun.

Venna Melinda juga menceritakan, di ibu kota Selandia Baru, Wellington, begitu memasuki civic centre (pusat kehidupan masyarakat sipil), maka akan mendapati bangunan perpustakaan publik yang sangat megah dengan arsitektur futuristik yang dikelola dengan sangat profesional. Pada perpustakaan ini,  warga dapat meminjam buku, majalah, tabloit, CD, VCD, untuk semua kalangan. Bahkan pelanggan dapat meminjam buku yang tidak ada pada perpustakaan ini. Caranya, menyampaikan judul buku dan penulisnya pada pustakawan. Pustakawan akan mencatatnya, kemudian menghubungi perpustakaan lain yang telah bekerja sama dan meminjamkan buku tersebut untuk pelanggan. Setelah buku dimaksud diperoleh pustakawan, ia akan menelepon ataupun memberi tahu melalui email pelanggan untuk mengambilnya. Selain itu perpustakan juga ditemukan di gereja-gereja, kampus.  Dinegara tersebut juga terdapat klub buku, klub film, klub computer yang semua bermuara pada peningkatan pengetahuan.  Bahkan juga ada program anak yakni  jam bercerita dan public speaking.

Sementara itu, Drs. Miftachudin, MM, Asisten Administrasi Umum dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan anggota legislative yang peduli, selalu mengingatkan agar gemar membaca. Harapannya masyarakat Kabupaten Blitar  dengan kegiatan Safari  Gerakan Nasional Gemar Membaca ini  meningkatkan kemauan membaca, demi menambah wawasan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Perpustakaan Nasional RI yang diwakili oleh Kepala UPTD Perpustakaan Proklamator Bung Karno, DR. Suyatno, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Drs. Sujono, MM,  Kepala Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Blitar, Dra. Indarti, MM, Ketua TP PKK Kabupaten Blitar, Ny.Hj.Ninik Rijanto serta  seluruh Kepala SMA/SMK se-Kabupaten Blitar.

 

 

About Webmaster Prokopim