Refleksi Hari Jadi Blitar ke-692 Tekad Menuju Masyarakat Lebih Sejahtera, Maju dan Berdaya Saing

hari jadi 1Blitar  dikenal sebagai Bhumi Laya Ika Tantra Adhi Raja atau bersemayamnya raja-raja nusantara. Banyak prasasti di wilayah ini yang menunjukkan bahwa Blitar adalah cikal bakal negeri ini. Semangat para leluhur, raja-raja terdahulu yang ingin membangun nusantara hendaknya menjadi pemacu semangat bagi warga Blitar khususnya, untuk  bangkit kembali dalam mewujudkan cita-cita para pendahulu menjadkan negara atau daerah yang loh jinawi, sejahtera. Ini sesuai dengan Motto Kabupaten Blitar, Hurub Hambangun Praja sekaligus sesuai dengan visi Bupati dan Wakil Bupati Blitar, “Menuju Masyarakat Lebih Sejahtera, Maju dan Berdaya Saing,”. Hal ini mengemuka dalam sambutan Bupati Blitar, H.Rijanto pada puncak Peringatan Hari Jadi Bitar ke-692 di Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro, Jumat (5/8).

Bupati Blitar juga menyampaikan, untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, maju dan berdaya saing tentu harus ada upaya kerja keras dan kerja nyata, tentunya juga harus dibarengi  dengan revolusi mental seperti yang digaungkan oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo. Revolusi mental dimulai dari keluarga hingga pemerintahan. Ini meliputi antara lain, etos kerja, taat hukum, disiplin, inovatif, produktif dan gotong royong. Untuk itu, Bupati Blitar menghimbau kepada semua pihak untuk  mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Blitar mewujudkan kemajuan ekonomi di bidang pertanian berbasis industri, wisata budaya, dan kuliner yang sudah ditandai dengan Ikrar Gerakan Bela dan Beli Produk Blitar. yang telah diikrarkan beberapa bulan lalu di Alun-alun Kantor Bupati Blitar di Kanigoro.

Dihadapan undangan yang  hadir, orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini juga menyampaikan terima kasih kepada para mantan Bupati Blitar, serta para tokoh yang telah berkontribusi untuk pembangunan Kabupaten Blitar.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Bupati Blitar Herry Noegroho, Bambang Soekotjo,  Komandan Korem 081/DSJ colonel Inf Piek Budyakto, Wakil Bupati Pacitan, Wakil Bupati Ponorogo, Anggota Forpimda, Kepala SKPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar, Camat, Kades/Lurah se-Kabupaten Blitar.

Masih seperti tahun sebelumnya, kirap kitab sejarah dan panji Kabupaten Blitar diawali dari alun-alun Kota Blitar menuju Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro. Termasuk Foto Bupati Blitar dari masa kemasa. Selain itu dua tumpeng lambang kemakmuran sebagai wujud syukur masyarakat Kabupaten Blitar juga turut diusung dari alun-alun menuju pendopo. Diakhir kegiatan, diadakan pula potong tumpeng oleh Bupati Blitar.

Seperti diketahui, rangkaian Hari Jadi Blitar ke-692 yang bertemakan,”Dengan Semangat Hari Jadi Blitar ke-692 dan HUT Kemerdekaan RI ke-71, Kita Laksanakan Revolusi Mental Untuk Mewujudkan Masyarakat Lebih Sejahtera, Maju dan Berdaya Saing,” telah dilakukan sejak 16 Juli 2016. Ini diawali dengan kegiatan dzikir dan jantiko mantab di  Pendopo Ronggo Hadinegoro. Dilanjutkan kegiatan ziarah kemakam Pangeran Sambernyowo (Raden Mas Said) di Karanganyar Jawa Tengah pada 22 Juli 2016. Juga zaiarah ke makam leluhur yang ada di Blitar. Malam tirakatan yang berlangsung di Pendopo Sasana Adhi Praja Kanigoro dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 2016 pukul 19.00 WIB, dengan kegiatan ambiyo. Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Blitar, Marhaenis. Selain itu, Hari Jadi Blitar ke-692 juga diwarnai dengan pembukaan gelar produk unggulan dalam rangka Hari Jadi Koperasi ke-69 juga sebagai langkah mendukung Gerakan Bela dan Beli Produk Blitar pada 29 Juli 2016. Bahkan ditingkat provinsi Jawa Timur pada tanggal 29 dan 30 Juli 2016, Kabupaten Blitar sebagai tuan rumah penyelenggaraan Jatim Specta Night Carnival (JSNC) 2016, dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf serta beberapa Kepala Daerah di Jawa Timur.

Sejarah Blitar

 Enam abad yang lalu, tepatnya pada bulan Waisaka Tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk beserta para pengiringnya menyempatkan diri singgah di Blitar untuk mengadakan upacara pemujaan di Candi Penataran. Rombongan itu tidak hanya singgah di Candi Penataran, namun juga ke tempat lain yang dianggap suci, yaitu Sawentar (Lwangwentar) di Kanigoro, Jimbe, Lodoyo, Simping (Sumberjati) di Kademangan dan Mleri (Weleri) di Srengat. Pada tahun 1357 Masehi (1279 Saka) Hayam Wuruk berkunjung kembali ke Blitar untuk meninjau daerah pantai selatan dan menginap selama beberapa hari di Lodoyo.

Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan Sengkuni. Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan Sengkuni berhasil diringkus, kemudian dihukum mati. Karena kebaikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut. Ini menjadikan Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana Tahun Saka 1246 atau 5 Agustus 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Tanggal itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Blitar setiap tahunnya.

 

 

About Webmaster Prokopim