Siraman Gong Kyai Pradah, WBTB Potensi Budaya Yang Harus Tetap Lestari

Ada yang istimewa dari upacara adat Siraman Gong Kyai Pradah di Kecamatan Sutojayan, Sabtu (2/12). Pada kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Blitar, Drs. H.Rijanto, MM, Wakil Walikota Blitar, Drs. Santoso, M.Pd serta anggota Forpimda ini diacarakan penyerahan  Piagam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2016 dan 2017 dari Bupati Blitar ke Camat Sutojayan, Muslih Hadi Wibowo. Seperti diketahui, Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah di Lodoyo ditetapkan menjadi satu diantara Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2016 dan 2017. Piagam Penetapan WBTB Gong Kyai Pradah ini diterima Staf Ahli Bupati Blitar Bidang Ekonomi, Keuangan & Pembangunan, Ir.Sugiyanto, M.Si,  di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, pada Jumat 27 Oktober 2017 lalu. Penghargaan ini juga diterima oleh sembilan kabupaten lain di Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Bupati Blitar menegaskan, penghargaan WBTB terhadap warisan budaya Indonesia, Gong Kyai Pradah ini patut disyukuri, karena tidak semua daerah di Jawa Timur bahkan di Indonesia mendapatkan penghargaan serupa. Disampaikan pula bahwa, tradisi Siraman  atau Jamasan Gong Kyai Pradah yang dilaksanakan setiap penanggalan Maulud yang notabene bertepatan dengan Peringatan  Hari Keagamaan Maulud Nabi Muhammad SAW atau tanggal 12 Rabiul Awal dan l Syawal,  ini sebagai bentuk nguri-nguri budaya. Atau dengan kata lain, melestarikan budaya adiluhung bangsa supaya generasi penerus negeri ini mengetahui aset budayanya. Melestarikan budaya bangsa sama dengan membentengi diri dari budaya barat yang berbeda dengan budaya negeri. Upacara adat ini juga berkontribusi menyejahterakan masyarakat. Mengingat masyarakat dari berbagai daerah ngalap berkah, mencari rejeki dengan berjualan di lokasi Siraman Gong Kyai Pradah tersebut. Diakhir sambutannya, orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini mengingatkan, agar seluruh warga Kabupaten Blitar waspada terhadap bencana alam pada musim penghujan ini.  Jaga keluarga dan lingkungan.

Sebelumnya, Camat Sutojayan, Muslih Hadi Wibowo menyampaikan laporannya bahwa, kegiatan rangkaian dari upacara adat siraman Gong Kyai Pradah ini meliputi jedoran, jaranan dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Selain itu juga diselenggarakan pengajian akbar oleh Ustdzah.Tan Mei Wa. Kegiatan yang dihadiri masyarakat dari berbagai pelosok bukan saja hanya dari Blitar namun dari luar Blitar ini bertujuan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa tradisi ini merupakan potensi wisata yang layak untuk dijual, sehingga diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan khususnya wisatawan dari mancanegara. Selain itu diharapkan kegiatan ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Mantan Camat Nglegok ini juga mengingatkan bahaya banjir pada musim penghujan. Setiap tahun wilayah Sutojayan sudah menjadi langganan banjir. Masyarakat diharapkan tetap waspada. Dia juga menyampaikan saat ini beberapa  saluran, drainase di Sutojayan sudah bersih. Ini salah satu cara mengurangi banjir.

Dalam kesempatan tersebut juga dibacakan sejarah Gong Kyai Pradah oleh Drs. Drajat, satu diantara pengajar dari SMPN 1 Sutojayan. Disampaikannya bahwa, ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I. Ada pula yang mengatakan bahwa Kyai Pradah berasal dari Adipati Terung, kembaran dari tongkat sakti Tikus Jinodo yang diberi nama Kyai Macan, yang diturunkan kepada Kyai Pengging sebagai kembaran Bende Udan Arum. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi laskar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit.

Pelacakan oleh Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927, mengenai riwayat Kyai Pradah, diperoleh informasi sebagai berikut: Sewaktu tentara Demak akan menggempur kerajaan Majapahit, Sunan Kudus mengikuti dari belakang sambil membawa bende Kyai Macan. Berhubung pasukan tentara Demak lebih kecil bila dibandingkan dengan pasukan tentara Majapahit, maka pasukan tentara Demak kemudian berpencar. Pada saat itu, wilayah sekitar Majapahit masih berupa hutan, sehingga ketika Kyai Macan dipukul, suaranya yang menyerupai harimau menggaum memantul ke segala penjuru. Mendengar suara itu, tentara Majapahit mengira tentara Demak mengerahkan harimau siluman. Banyak di antara mereka ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan. Hal itu justru memudahkan tentara Demak masuk ke dalam kota Majapahit dan mendudukinya. Sesudah kerajaan Majapahit roboh, berdirilah kerajaan Demak. Kyai Macan kemudian dijadikan pusaka Demak disatukan dengan gamelan Sahadatin. Sejak itu, Kyai Macan berpindah-pindah menjadi pusaka Pajang dan Kartosuro. Menurut cerita, Sunan Paku Buwono I mempunyai seorang putra dari garwo ampeyan bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi belum berputra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat menjadi raja sebagai pengganti dirinya. Namun, ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra laki-laki.

Agar tidak menimbulkan perang saudara, Pangeran Prabu disuruh pergi ke hutan Lodoyo untuk babad mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit, maka Pangeran Prabu diberi gong Kyai Macan sebagai tumbal. Pangeran Prabu bersama-sarna isterinya, Putri Wandansari, kemudian berangkat babad disertai beberapa abdi. Sebenarnya Sunan Paku Buwono I berbuat demikian itu bukan bermaksud agar Pangeran Prabu berhasil mendirikan kerajaan, melainkan agar Pageran Prabu mengalami kehancuran dari godaan jin. Dilain pihak, Pangeran Prabu sendiri sebenarnya juga tidak ingin mendirikan kerajaan karena beliau sesungguhnya seorang ulama besar. Pangeran Prabu dapat menangkap maksud Sunan Paku Buwono I terhadap dirinya. Sehingga untuk menghilangkan jejaknya, beliau berpindah-pindah tempat tinggalnya. Setiap menempati lokasi baru, beliau mengadakan pengajian. Pangeran Prabu kemudian mendirikan pondok. Pondok Pangeran Prabu atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Imam Sampurna, semakin lama bertambah banyak muridnya. Keberhasilan itu akhirnya terdengar oleh Adipati Srengat yang bernama Pangeran Martodiningrat, maka segera dilaporkan ke Kartosuro karena dikhawatirkan Pangeran Prabu akan mendirikan kerajaan. Kartosuro pun kemudian mengirim tentaranya dibantu oleh kompeni Belanda. Pangeran Prabu atau Panembahan Imam Sampurno mengetahui hal itu lalu bersembunyi di hutan Kedung Bunder dan berganti nama menjadi Mbah Tjingkrang. Kata Tjingkrang mengandung arti ’maksud beliau belum tercapai’. Mbah Tjingrang akhirnya menetap di Kedung Bunder sampai akhir hayatnya. Makam Mbah Tjingkrang pun akhirnya menjadi punden keramat.

Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah.

 

About Webmaster Prokopim